Akal adalah kemampuan manusia untuk menimbang, memahami, dan mengambil kesimpulan. Ketika akal digunakan, terjadilah proses berpikir. Hasil dari proses berpikir tersebut dapat berupa ide, pemikiran, ataupun kesimpulan.
Ada satu peribahasa bahasa Sunda yang berbunyi, “Manuk hirup ku jangjangna, manusa hirup ku akalna,” yang artinya, burung hidup dengan sayapnya, manusia hidup dengan akalnya.
Sebagai seorang manusia, akal adalah salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, khususnya binatang. Namun, memiliki akal tidak selalu berarti bahwa manusia menggunakannya dengan benar. Banyak manusia justru menggunakan akalnya untuk membenarkan hawa nafsu, sehingga melakukan berbagai tindakan kriminal, kekerasan, pelecehan, korupsi, dan berbagai hal negatif lainnya yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Akal Akan Membimbing kepada Keselamatan
Akal adalah kemampuan manusia untuk menimbang, memahami, dan mengambil kesimpulan. Ketika akal digunakan, terjadilah proses berpikir. Hasil dari proses berpikir tersebut dapat berupa ide, pemikiran, ataupun kesimpulan.
Akal yang baik adalah akal yang dituntun oleh petunjuk Allah, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.
Sebagai contoh:
Di depan Budi melintas seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian yang sangat terbuka sehingga sebagian besar auratnya terlihat. Bagi seorang laki-laki, terlepas dari nalurinya untuk menyukai wanita cantik, tentu tidak mudah untuk mengabaikan hal tersebut. Namun, karena akal Budi dituntun oleh wahyu, ia terlebih dahulu bertanya kepada dirinya, “Jika aku melihatnya, apakah Allah akan rida?”
Kemudian, ia mengingat bahwa Allah memerintahkan orang beriman untuk menundukkan pandangan. Proses mengingat, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan tersebut merupakan salah satu bentuk penggunaan akal. Akhirnya, Budi menundukkan pandangannya dan terhindar dari satu perbuatan maksiat.
Berpikir Sebelum Bertindak
Sebagai makhluk hidup, manusia diberkahi oleh Allah dengan pancaindra untuk menangkap berbagai informasi. Sementara itu, akal merupakan alat untuk memahami, mengolah, dan menyimpulkan informasi yang ditangkap oleh pancaindra.
Ketika mata melihat halaman rumah yang kotor, apa yang kita pikirkan? Ketika telinga mendengar hinaan dari orang lain, apa yang kita pikirkan?
Jika kita tidak berpikir sebelum bertindak, ketika melihat halaman rumah yang kotor, kita mungkin akan mengabaikannya dan tidak peduli, bukannya membersihkannya. Begitu pula ketika mendengar hinaan dari orang lain, kita mungkin langsung marah atau bersedih, bukannya menerima keadaan tersebut dengan tenang dan bersabar.
Dampaknya, ketika kita tidak mencoba berpikir sebelum bertindak, hal tersebut dapat menimbulkan masalah yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, terkadang akibatnya sulit untuk diperbaiki.
Prinsip Utama Menggunakan Akal
Prinsip utama dalam menggunakan akal adalah peka terhadap hal-hal yang baik serta mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang buruk.
Allah SWT berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Akal yang baik adalah akal yang mampu membaca dan memahami segala sesuatu yang terjadi pada ciptaan Allah.
Contohnya:
Manusia melihat bagaimana burung dapat terbang dengan bebas, kemudian terinspirasi untuk menciptakan pesawat.
Manusia mencium aroma yang sangat harum dari bunga, kemudian terciptalah minyak wangi.
Manusia melihat seekor monyet mengalami keracunan setelah memakan buah kecubung. Dari peristiwa tersebut, manusia belajar untuk menghindari buah tersebut meskipun terlihat indah dan menggoda.
Dari berbagai peristiwa tersebut, kita dapat belajar bahwa akal bukan hanya digunakan untuk berpikir, tetapi juga untuk membaca, memahami, mengambil pelajaran, dan menentukan tindakan yang tepat.
Akal tanpa wahyu adalah pisau tajam di tangan anak kecil. Wahyu tanpa akal adalah peta yang tidak pernah dibaca. Manusia yang benar adalah manusia yang menggenggam keduanya.
Pada akhirnya, menggunakan akal dengan benar bukan sekadar tentang kemampuan untuk berpikir. Lebih dari itu, menggunakan akal berarti mampu membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah, serta mampu menentukan tindakan berdasarkan pertimbangan yang benar.
Semua itu tidak akan sempurna tanpa tuntunan dari Allah SWT.
Sebagaimana ungkapan yang dinisbatkan kepada Imam Al-Ghazali:
“Akal adalah cahaya yang Allah letakkan dalam hati manusia, yang dengannya manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.”