kelapangan hati bukan semata-mata keadaan yang datang dengan sendirinya, tetapi dapat diupayakan melalui kebiasaan dan lingkungan yang baik.
Kuningan, 7 Oktober 2026 — Pondok Pesantren Bumi Santri Ar-Rumi (BSA) kembali menggelar Pengajian Rabu Pagi sebagai bagian dari ikhtiar membangun tradisi menuntut ilmu sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (7/10) pukul 08.00–09.00 WIB tersebut diikuti oleh ibu-ibu jemaah bersama para santri. Pengajian menjadi ruang untuk menambah wawasan keislaman, mempererat silaturahmi, sekaligus mengingat kembali berbagai nikmat Allah SWT yang terkadang luput dari rasa syukur manusia.
Hadir sebagai pemateri, Kyai Arif Hidayat, M.Pd. membuka kajian dengan tahiyatul Islamiyah sebelum menyampaikan materi utama mengenai nikmat Islam, iman, dan ibadah.
Mensyukuri Nikmat Kesempatan Beribadah
Dalam tausiyahnya, Kyai Arif mengajak jemaah untuk memperluas makna syukur. Menurutnya, rasa syukur tidak semestinya hanya muncul ketika seseorang memperoleh kenikmatan berupa harta, kesehatan, keberhasilan, maupun berbagai hal yang bersifat duniawi.
Lebih dari itu, kesempatan untuk tetap beribadah dan bersujud kepada Allah SWT merupakan nikmat besar yang patut disyukuri.
«“Loba jalma anu syukuran meunangkeun nikmat di dunya, tapi poho syukuran kana nikmat masih kénéh bisa ibadah, masih bisa sujud.”»
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa masih diberinya kesempatan untuk beribadah merupakan karunia yang sangat besar. Sebab, tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Tiga Cara Melapangkan Hati
Mengaitkan pembahasan dengan QS. Al-Insyirah, Kyai Arif menjelaskan pentingnya memiliki hati yang lapang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Menurutnya, kelapangan hati bukan semata-mata keadaan yang datang dengan sendirinya, tetapi dapat diupayakan melalui kebiasaan dan lingkungan yang baik.
Dalam kajiannya, beliau menyampaikan tiga hal yang dapat dilakukan untuk membentuk hati yang lebih lapang, yaitu:
1. Mencari ilmu yang bermanfaat
Ilmu menjadi salah satu jalan untuk memahami kehidupan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan ilmu, seseorang dapat belajar menyikapi berbagai persoalan secara lebih bijaksana serta membedakan antara sesuatu yang membawa kebaikan dan sesuatu yang justru menjauhkan diri dari Allah SWT.
2. Membiasakan husnuzan kepada Allah dan sesama
Berbaik sangka kepada Allah SWT menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan. Begitu pula dalam hubungan dengan sesama manusia, sikap husnuzan dapat membantu seseorang terhindar dari prasangka buruk yang dapat mempersempit hati dan merusak hubungan.
3. Menjauhi pergaulan yang membawa pengaruh buruk
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan karakter seseorang. Karena itu, memilih pergaulan yang baik menjadi bagian penting dalam menjaga hati, keimanan, serta semangat untuk terus melakukan kebaikan.
Hati yang Lapang Melahirkan Kelembutan
Lebih lanjut, Kyai Arif menjelaskan bahwa salah satu tanda hati yang lapang adalah mampu bersikap lemah lembut kepada sesama, termasuk kepada orang yang mencintai maupun kepada orang yang mungkin tidak menyukainya.
Kelembutan hati juga membuat seseorang lebih mudah menerima nasihat. Ketika hati tidak dipenuhi kesombongan, prasangka, dan kebencian, seseorang akan lebih terbuka untuk belajar, memperbaiki diri, serta menerima kebaikan dari orang lain.
Dengan demikian, kelapangan hati bukan hanya tentang kemampuan menghadapi masalah, tetapi juga tentang bagaimana seseorang tetap menjaga akhlak ketika berhadapan dengan berbagai karakter manusia.
Menutup Kajian dengan Doa dan Muhasabah
Di penghujung kajian, jemaah diajak untuk tidak berhenti pada pemahaman semata, tetapi mengamalkan tiga hal yang telah disampaikan, yaitu terus mencari ilmu yang bermanfaat, membangun sikap husnuzan, serta menjaga diri dari lingkungan yang membawa pengaruh buruk.
Ketiganya diharapkan dapat menjadi bekal bagi jemaah dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan hati yang lebih lapang, pikiran yang lebih jernih, serta rasa syukur yang semakin kuat kepada Allah SWT.
Kegiatan Pengajian Rabu Pagi kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Kyai Arif Hidayat, M.Pd., dilanjutkan dengan pembacaan doa kifaratul majelis secara bersama-sama.
Melalui kegiatan rutin ini, Pondok Pesantren Bumi Santri Ar-Rumi terus berupaya menghadirkan ruang belajar dan penguatan spiritual bagi jemaah dan santri. Harapannya, ilmu yang diperoleh tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga tumbuh menjadi amal dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.