Kuningan, 8 Oktober 2026 — Pondok Pesantren Bumi Santri Ar-Rumi (BSA) kembali menggelar Pengajian Malam Jumat (JIMAT) sebagai bagian dari ikhtiar membangun tradisi menuntut ilmu sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (8/10), pukul 19.30–21.00 WIB, ini diikuti oleh jemaah ibu-ibu dan bapak-bapak bersama para santri. Pengajian Malam Jumat menjadi ruang untuk menambah wawasan keislaman, mempererat tali silaturahmi, sekaligus mengingatkan kembali para jemaah akan kebesaran dan nikmat Allah Swt. yang terkadang luput dari rasa syukur manusia.
Acara dipandu oleh Ustad Tahrul Muttaqin yang sekaligus membuka kegiatan. Rangkaian acara meliputi pembukaan, hadoroh, pembacaan Diba', Mahalul Qiyam, tausiah, dan doa. Suasana pengajian semakin khidmat dengan penampilan tim hadroh Shoutul Qolbi.
Hadir sebagai pemateri, Kiai Arif Hidayat, M.Pd., membuka kajian dengan kalimat tahiyatul Islamiyah. Dalam tausiah yang disampaikan, beliau mengangkat tema “Keistiqamahan dalam Menuntut Ilmu”.
Keistiqamahan dalam Menuntut Ilmu
Pada awal kajian, Ustd Arif Hidayat menyampaikan sebuah nasihat dalam bahasa Sunda:
“Sok sanajan geus kolot, milari élmu mah hukumna wajib, sanajan éta élmu téh hésé kahapalna.”
Artinya, meskipun sudah berusia lanjut, menuntut ilmu tetap menjadi kewajiban, sekalipun ilmu tersebut sulit untuk diingat.
Beliau kemudian mengingatkan sebuah ungkapan yang sering disampaikan oleh orang-orang terdahulu bahwa mencari ilmu pada masa muda ibarat menulis di atas batu, sedangkan mencari ilmu pada masa tua ibarat menulis di atas air.
Ungkapan tersebut mengandung makna bahwa ilmu yang dipelajari sejak muda cenderung lebih mudah diingat dan melekat dalam diri. Sementara itu, ketika usia semakin bertambah, seseorang mungkin membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mengingat dan memahami ilmu yang dipelajarinya.
Oleh karena itu, Ustd Arif berpesan kepada para santri agar senantiasa istiqamah dalam menuntut ilmu. Beliau juga menceritakan pengalamannya ketika bertanya kepada para jemaah, khususnya mereka yang telah lanjut usia, mengenai penyesalan dalam perjalanan hidup mereka.
Sebagian di antara mereka mengungkapkan penyesalan karena pada masa muda tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu, terutama ilmu agama yang menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.
Meski demikian, beliau menegaskan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar. Kepada para jemaah yang telah lanjut usia, beliau berpesan agar tetap bersemangat menuntut ilmu dan mengamalkannya sedikit demi sedikit, meskipun terkadang sulit untuk mengingatnya.
Hal ini sejalan dengan ungkapan yang masyhur dalam tradisi keilmuan Islam:
اُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Latin: Uṭlubul-'ilma minal-mahdi ilal-laḥdi.
Artinya: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat.”
Melalui pesan tersebut, Kiai Arif mengajak seluruh jemaah, baik yang muda maupun yang tua, untuk senantiasa istiqamah dalam menuntut ilmu. Sebab, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan formal atau memasuki usia lanjut. Menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang yang perlu dijalani sepanjang hayat.
Istiqamah sebagai Jalan Menuju Kemuliaan
Dalam kajian tersebut, Ustd Arif juga mengingatkan bahwa istiqamah merupakan sikap teguh dalam menjalankan kebaikan dan ketaatan kepada Allah Swt. Sikap ini menjadi salah satu jalan untuk meraih kemuliaan serta mengharapkan surga yang dijanjikan oleh Allah Swt.
Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30).
Selain itu, beliau mengutip sebuah ungkapan yang dinisbatkan kepada Syekh Abu Ali al-Juzajani:
الِاسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَةٍ
Latin: Al-istiqāmatu khairun min alfi karāmah.
Artinya: “Istiqamah lebih baik daripada seribu karamah.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. memiliki kedudukan yang sangat penting. Istiqamah merupakan proses panjang dalam mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, yang dilakukan secara konsisten di tengah berbagai godaan, kesenangan duniawi, dan kejenuhan.
Proses inilah yang menuntut kesungguhan seorang hamba untuk terus menjaga ketaatan, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Sementara itu, karamah merupakan kemuliaan luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Dengan demikian, pesan utama yang hendak ditekankan ialah pentingnya menjaga konsistensi dalam beribadah dan berbuat baik, bukan semata-mata mengejar keistimewaan tertentu.
Menutup Kajian dengan Doa dan Muhasabah
Rangkaian Pengajian Malam Jumat ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh Ustd Arif Hidayat, M.Pd., kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kafaratul majelis secara bersama-sama.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Bumi Santri Ar-Rumi terus berupaya menghadirkan ruang belajar dan penguatan spiritual bagi para jemaah dan santri. Harapannya, Pengajian Malam Jumat tidak hanya menjadi kegiatan rutin, tetapi juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu, memperkuat keimanan, menjaga silaturahmi, serta membiasakan diri untuk istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam di kehidupan sehari-hari.